Oleh : Didi Wirayuda
![]() |
Terlihat satpam beristirahat usai mengamankan kampus |
Sambil menunggu dosen di kelas, seorang teman ingin pinjam
sepedamotornya. Rina lihat ke dalam tas. Kuncinya tidak ada, hilang. Ia coba
cari lebih teliti. “Saya sudah cari dalam tas, bongkar dompet dan semuanya,
tetap tidak ketemu,” ujarnya. Ia turun langsung cek ke area parkir. Sontak Reni
cemas dan menangis. Honda Beat miliknya tidak lagi di tempat semula,
Jumat 27 April 2012.
Tangisannya mengundang perhatian seorang satpam yang berjaga
saat itu. Satpam pun bertanya sebab ia menangis.
“Abang ada lihat motor saya tadi di sini?” tanya Rina
terisak.
“Motor apa, Dek? warnanya apa?” tanya satpam lagi.
“Motor Beat warna pink, Bang,” jawab rina.
“Jadi itu motor, Adek. Tadi saya temukan kunci
tertinggal di sepedamotor Adek, dan sudah diamankan di pos. Silakan
jemput ke sana saja. Temui Bang Herman,” satpam memberikan penjelasan.
Rina bisa bernafas lega, kendaraannya tidak hilang. Bersama
seorang teman Rina menuju pos satpam. Ia diminta menunjukkan Bukti Pemilik
Kendaraan Bermotor (BPKB) atau Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK) dan Kartu Tanda Mahasiswa (KTM). Rina baru
sadar semua surat tersebut tertinggal di rumah.
Dengan berat hati Rina pulang mengambil surat-surat ke rumah.
Saat ia kembali ke pos, satpam menegurnya. “Kesalahan kamu ini besar. Parkir
sembarangan, di tepi jalan lagi,” ujar satpam. Rina lebih banyak diam. Satpam
catat di jurnalnya, tentang data-data secara lengkap. Rina diminta tandatangan
di buku tersebut. Kunci motor dikembalikan.
Baru saja akan beranjak pergi, Rina berhenti karena mendengar
kata-kata satpam itu. “Adek sudah kehilangan, kan?! Untung kami
yang menemukan. Kalau sempat orang lain, belum tentu motor Adek
kembali,” katanya.
Rina coba minta penjelasan. “Memangnya harus ya, Bang.
Ini kan sudah menjadi tugas Abang,” katanya. Sontak raut wajah
satpam pun berubah. “Memangnya kami tukang parkir? Tugas kami menjaga gedung,
bukan parkir. Lagian ini juga untuk uang kas,” jawabnya. “Kalau keberatan
tidak usah saja, tapi kunci kami tahan,” satpam coba mengancam. Rina
berikan Rp20 ribu.
Bagi Rina memberikan uang kepada satpam dengan paksaan bisa
memberatkan mahasiswa. Menurutnya menjaga keamanan dan kenyamanan di kampus
sudah menjadi tugas satpam. Kadang tidak semua mahasiswa sedang memiliki uang
lebih.
Husnita, Mahasiswi Syariah dan Ilmu Hukum (Fasih), mengalami
hal sama. Waktu itu ia terburu-buru mengantar tugas perkuliahan. Sambil jalan ia sadar kunci sepedamotornya
tinggal. Ia menuju parkiran. Tampak seorang satpam bersiap hendak bawa
sepedamotornya. “Bang itu motor saya, jangan dibawa,” teriaknya
mendekat. Satpam minta fotokopi STNK dan KTM.
Husnita berlalu menyiapkan syaratnya. Usai fotokopi ia lihat kendaraannya sudah tidak di
tempat. “Jemput ke pos saja, Dek,” kata satpam.
Husnita berikan syarat pengambilan sepedamotornya di pos
satpam. Lalu ia diminta uang sukarela. Kontan saja Husnita menolak. Lalu
temannya menengahkan.
“Bang sudahlah, cuma ini aja, kenapa harus
bayar?” sela temannya.
“Tidak bisa, Dek. Harus bayar, sudah aturannya
begitu,” kata satpam.
Husnita berikan Rp10 ribu. Sebenarnya ia keberatan dengan
pembayaran itu. “Itu kan sudah tugasnya, masa diminta juga. Kalau bisa
masalah kunci tertinggal jangan dibawa ke kantor, pegang saja,” ujarnya.
Berdasar angket yang disebar Gagasan, mahasiswa ada
memberikan dari Rp5 ribu hingga Rp50 ribu sebagai ucapan terimakasih. Namun tak
sedikit juga mahasiswa yang hanya mengucapkan terimakasih.
Bagi Fero, seorang mahasiswa Fasih tidak keberatan memberikan
uang sebagai ucapan terimakasih. Ia pernah mengalami hal serupa. “Kalau
motornya hilang kan lebih banyak lagi uang keluar,” ucapnya. Saat itu ia
memberikan Rp10 ribu secara sukarela.
Menanggapi hal ini, Nenong, koordinator lapangan (Korlap)
satpam, merasa ini terjadi sebab kurang sosialisasi. Pihaknya sudah tempelkan
himbauan agar mahasiswa berhati-hati memarkirkan kendaraannya. Satpam hanya
bertugas menjaga keamanan dan ketertiban kampus. “Kami sempat survei ke kampus
lain. Di sana soal parkir ada yang menangganinya sendiri,” tambahnya.
Prosedur pengambilan sepedamotor tidak dipaksa memberikan
sejumlah uang. “Mahasiswa beberapa kali memberikan uang Rp50 ribu, tapi kami
tolak. Takutnya muncul kesalahpahaman,” sebutnya. Ia tidak ingin muncul fitnah
karena mahasiswa salah menanggapi pemberian uang tersebut. Kecuali jika
mahasiswa memberinya sebagai ucapan terimakasih.
Awal penugasasan pihaknya sudah rencanakan untuk mengadakan
sosialisasi soal pengamanan kampus. Ia sudah beberapa kali menghadap ke bagian
rumah tangga UIN Suska. “Pihak rektorat kembalikan kebijakannya di satpam,”
ujarnya. Ia berharap civitas UIN Suska bekerjasama membantu menjaga keamanan
dan kenyamanan kampus.
Kabag Rumah Tangga, Hanifah mengatakan mahasiswa selayaknya
berpikir secara arif. “Kita tidak boleh menyalahkan satu pihak harus lihat dari
berbagai pihak.” _Edo, Wilna
No comments:
Post a Comment